oleh

Vaksinasi Covid-19 Dapat Lampu Hijau Berdasarkan Survei Ini

banner 468x60

Jakarta, monitorkeadilan.com — Vaksinasi Covid-19 seperti mendapatkan lampu hijau. Survei PT Bio Farma menunjukkan, hanya 7,6 persen keluarga menyatakan tidak mau divaksin. Lainnya, sebesar 64,8 persen menyatakan setuju divaksin. Sisanya, 27,6 persen keluarga menyatakan belum tahu.

Survei yang dilakukan 30 September tersebut menyimpulkan, jumlah yang mau divaksin jauh lebih banyak ketimbang yang tidak mau.

banner 336x280

Dalam survei responden diberi pertanyaan, “Jika pemerintah memberikan vaksin Covid-19 apakah Anda dan keluarga akan ikut imunisasi?”

Jumlah keluarga yang mau divaksin tampaknya bakal menjadi lampu hijau bagi rencana vaksinasi massal di Indonesia untuk menekan pertumbuhan pasien Covid-19.

Dari 7,6 persen keluarga yang tidak mau vaksinasi, mengajukan alasan berbeda. Ada yang mengatakan tidak yakin keamanan vaksin, tidak yakin efektivitas vaksin, takut efek samping, dan tidak percaya vaksin.

Ada juga keluarga yang tidak mau divaksin karena alasan agama.

Survei itu sendiri bertajuk tentang sikap masyarakat terhadap vaksin, dilakukan bersama Kementerian Kesehatan, WHO, dan UNICEF.

Hasil survei Bio Farma diungkap dalam diskusi daring bertema “Refleksi Satu Tahun Pemerintahan Jokowi-Amin” di Jakarta, Senin (26/10).

Kesediaan masyarakat mendapatkan vaksinasi dianggap penting karena dalam waktu dekat ini pemerintah bakal melakukan vaksinasi Covid-19.

Vaksin memang bukan segalanya. Vaksin juga bukanlah senjata pamungkas. Namun vaksin jelas punya manfaat. Selain mengontrol kematian juga mencegah kecacatan dan komplikasi akibat penyakit.

Contohnya vaksin campak, tetanus, dan pertussis. Vaksin campak telah berhasil menyelamatkan 2,7 jiwa nyawa manusia. Begitu juga dengan vaksi tetanus. Ada dua juga yang terselamatkan dengan vaksin ini dan ada satu juta jiwa nyawa selamat dengan divaksin pertussis.

“Pada intinya vaksin menimbulkan kekebalan pada individu, kelompok dan juga global,” kata Neni.

Hal ini senada dengan pernyataan Staf Ahli Menteri Kesehatan Bidang Teknologi Kesehatan dan Globalisasi, Achmad Yurianto. Kata dia, vaksinasi Covid-19 bukan senjata ampuh untuk menyelesaikan pandemi virus corona di Indonesia. Vaksinasi bukan lini pertama dalam penanggulangan penyakit pandemi Covid-19. Meski telah divaksin, mereka tetap harus menggunakan masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan.

“Vaksin ditujukan untuk memberikan kekebalan agar saat terpapar virus tidak jadi sakit,” ujar Yurianto.

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan