oleh

Hubungan Tafsir Mimpi dan Primbon, Begini Penjelasannya

banner 468x60

JAKARTA, MONITORKEADILAN — Diskursus masyarakat tentang mimpi, masih berlangsung hingga kini. Dikotomisasi terkait mimpi secara umum terbagi menjadi dua. Sebagian masyarakat memandang mimpi hanyalah bunga tidur. Sebagian lain sebaliknya, beranggapan mimpi merupakan cara alam mengirimkan isyarat kepada manusia tentang apa yang akan terjadi.

Disarikan dari sejumlah sumber, lingkungan agama Islam memandang, mimpi orang mukmin yang taat merupakan tanda-tanda yang dapat menguraikan persoalan-persoalan tertentu. Tetapi mimpi yang dialami kalangan yang bukan mukmin taat, dianggap merupakan salah satu cara setan untuk menyesatkan manusia.

banner 336x280

Bagi kalangan psikolog, mimpi dihasilkan gejolak pikiran dan perasaan pada suatu pengalaman hidup yang berpengaruh hingga ke alam bawah sadar. Carl Gustav Jung dan Sigmund Freud dikenal sebagai ilmuwan yang pernah membedah persoalan seputar mimpi manusia dari sudut pandang psikologi.

Di Amerika, mimpi dijadikan terapi pengobatan. Beberapa hasilnya telah diterbitkan dalam website American Psychological Association.

James P. Chaplin memandang, mimpi adalah tamsil dan ide yang saling berhubungan saat manusia sedang tertidur, dibius, maupun dihipnotis.

Menurut Sigmund Freud, mimpi adalah pemenuhan harapan. Ketika di alam nyata harapan tidak terpenuhi, hal itu dapat terpenuhi dalam mimpi. Salah satu contohnya, adalah mimpi bercinta.

Meski begitu gambaran dalam mimpi kerap kali tidak lugas. Karenanya untuk memahami mimpi terlebih dahulu harus dipahami isi dan pola berpikir klien.

Carl Gustav Jung mempelajari psikologi mimpi berdasarkan teori-teori Sigmund Freud. Menurutnya mimpi memperlihatkan keinginan dan pemikiran yang disembunyikan manusia.

Di lingkungan masyarakat yang masih menerapkan kebudayaan Jawa, mimpi dibagi menjadi dua. Mimpi yang terjadi di bawah jam 23.00 WIB dianggap bunga tidur. Sedangkan mimpi yang terjadi di atas jam tersebut dianggap menyimpan isyarat atau pesan dari alam.

Di lingkungan kebudayaan Jawa, dikenal primbon, semacam kitab yang dipergunakan untuk menganalisa berbagai persoalan kehidupan, termasuk mimpi.

Primbon merupakan buku yang menampung catatan-catatan orang Jawa tentang hubungan gejala alam dengan peristiwa. Berdasarkan catatan-catatan itulah orang Jawa di masa lalu membuat penghitungan-penghitungan yang rumit sebelum mendirikan rumah atau menentukan tanggal pernikahan, misalnya.

Namun primbon juga mencatat cara pengobatan yang dipelajari dan dicatat dalam kurun beratus tahun. Dengan begitu primbon dapat disebut laboratorium-nya orang Jawa.

Salah satu primbon paling populer adalah susunan Kanjeng Pangeran Haryo Cokroningrat, yakni kumpulan serat Betaljemur Adammakna yang kemudian disebut primbon.

Karya yang paling banyak dipakai orang Jawa untuk menentukan karakter seseorang berdasarkan tanggal kelahirannya itu disusun dalam 337 bab yang dibagi menjadi delapan judul. Yakni Betaljemur Adammakna (Jilid 1), Lukmanakim Adammakna (Jilid 2), Atassadur Adammakna (Jilid 3), Bektijamal Adammakna (Jilid 4), Shahdhatsaahthir Adammakna (Jilid 5), Qomarrullsyamsi Adammakna (Jilid 6), Naklassanjir Adammakna (Jilid 7), Quraisyn Adammakna (Jilid 8).

Namun primbon tidak hanya dipergunakan untuk mengurai masalah-masalah tradisional. Acap kali primbon juga dipakai untuk menafsir dan memprediksi masalah politik kontemporer.

Saat ini kalangan yang masih menggunakan primbon, tampaknya kian terpinggirkan. Padahal primbon perlu dipandang merupakan upaya orang Jawa mengidentifikasi keilmiahan di masa ratusan tahun lalu.

Salah satu produk yang dianggap mewakili keilmiahan adalah upaya pencatatan. Di bagian terdahulu telah disebutkan, primbon adalah buku yang menampung catatan-catatan orang Jawa tentang hubungan gejala alam dengan peristiwa.

Dalam primbon juga dicatat hubungan antara mimpi dengan peristiwa yang sudah dan akan terjadi, sebagai hasil kajian yang harus diakui kerap bercampur dengan mitos.

Harus diakui pula, primbon memiliki kelemahan pada pembuktian. Termasuk pembuktian terkait tafsir mimpi yang kerap dibumbui kemitosan.

Memang sayang jika hasil budaya selama ratusan tahun itu pada akhirnya harus lenyap ditelan jaman. Mungkin salah satu cara pencegahannya dengan melakukan demitosisasi dan desakralisasi. Sehingga primbon dapat diterima para millenial. ***

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed