oleh

Cerita Dramatis untuk Adam Pasien Covid-19 Pertama Papua Barat yang Sembuh

banner 468x60

Manokwari, monitorkeadilan.com — Mendung masih menyelimuti Manokwari pada Senin pagi 11 Mei 2020. Aktivitas warga kota tak seramai biasanya di tengah pembatasan aktivitas sosial. Meskipun begitu, sejumlah pejabat Kabupaten Manokwari dan Provinsi Papua Barat, Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19, pejabat militer, para dokter dan perawat bergegas dan sibuk di RSUD Provinsi di kawasan Irman Jaya, Amban.

Kesibukan di RSUD milik pemerintah Provinsi Papua Barat itu meningkat, berkenaan dengan pelepasan Adam, seorang lelaki paruh baya yang jadi pasien positif Covid-19  setelah 24 hari menjalani perawatan.

banner 336x280

Adam merupakan pasien pertama di Manokwari yang dinyatakan sembuh. Kebahagian pun menyeruak di hati tim penanganan Covid-19, para dokter dan perawat. Tak heran, bila Adam dilepas dalam upacara istimewa dan dihadiahi seikat kembang mawar putih berpadu soft pink.

Kembang mawar itu diserahkan Dokter Nur Wahidah, salah seorang tim dokter Faskes Karantina Rumah Sakit Provinsi Papua Barat. Seturut filosofi bunga Mawar, warna putih merupakan simbol  kemurnian, kepolosan, simpati dan spiritualitas, yang dipadu soft pink menyiratkan pesan  kelembutan dan kekaguman.

“Kami tim Covid-19 dari provinsi (Papua Barat) dan Kabupaten Manokwari juga dokter dan perawat tentu turut bergembira. Kami juga sampaikan terima kasih karena selama dalam asuhan klinis pasien sangat patuh, ini tentu menjadi salah satu penyumbang faktor kesembuhan,” kata Ketua Pelaksana Fasilitas Karantina rumah sakit rujukan provinsi, Viktor Eka Nugraha.

Mawar, dalam peristiwa itu, tidak lagi sekadar simbol cinta dan romantisme, tetapi juga simpati dan spiritualitas. Cinta, simpati dan ketulusan, telah diperlihatkan oleh Tim Gugus Tugas Covid-19, para dokter dan perawat, sementara  Adam ikut membantu dirinya melalui spiritualitas dan semangat untuk sembuh, dengan patuh pada seluruh prosedur dan protokol.

“Semangat”, kata Adam berkali-kali, ketika keluar dari lingkungan rumah sakit dan  dijemput keluarga, menyiratkan spiritnya yang sangat kuat. Ia, melangkah pasti dijemput keluarga yang telah menungguinya di “gerbang kebebasan”.

Adam memang masuk ke fasilitas karantina kesehatan bersama beberapa orang lainnya. Kabarnya, dua rekan Adam sudah menunjukkan tanda-tanda segera pulih. Karena itu, publik tentu berharap, agar lebih banyak kembang mawar berikut untuk mereka yang sembuh, sekaligus menjadi simbol perjuangan bersama dalam perang melawan pandemic Covid-19 yang telah menjungkir-balikan banyak sisi peradaban umat manusia.

Cerita dramatis

Cerita di balik perjuangan Adam dan beberapa rekannya memang cukup dramatis. Mereka mendapat hujatan, bahkan demo penolakan di beberapa tempat karantina, sebelumnya akhirnya dirawat Rumah Sakit Provinsi Papua Barat.

Sebagai orang pertama yang menerima kembang mawar di Manokwari, Adam telah menjadi simbol perlawanan terhadap Covid-19. Karena itu, Adam harus memahami, stigma yang sempat disematkan kepada ia dan rekan-rekannya dan tak harus menaruh dendam.

Warga yang sempat melakukan demo penolakan, sebagaimana juga manusia pada umumnya dirongrong rasa takut yang  luar biasa.  Virus yang satu ini, meluluh-lantakan kedigdayaan manusia modern sampai pada tingkat yang paling mengkhawatirkan.

Karena itu, protes dan penolakan merupakan cerminan dari kegamangan kita bersama menghadapi penyebaran Covid-19 bagai hantu. Ia tak berwujud secara kasat mata. Menyerang tanpa ada tanda-tanda, memang sangat menakutkan.

Publik di Papua Barat, tentu legah mengetahui peristiwa kesembuhan itu. Tetapi, jangan lengah, karena perang belum usai.  Tengok saja, kurva grafik warga yang positif belum sampai pada tingkat jenuh, malah cenderung bertambah menanjak. Apalagi, sudah ada transmisi lokal.

Hingga artikel ini ditulis, data dari Tim Gugus Tugas provinsi sebagaimana disampaikan juru bicaranya, Arnol Tiniab, baru dua dari 70 orang positif yang sembuh. Satu di Sorong dan satu lagi, Adam, di Manokwari. Sebanyak 68 lain sedang dalam penanganan.

Artinya, jumlah pasien yang belum sembuh masih terlalu banyak. Belum lagi yang berstatus PDP, OTG dan sebagainya. Tak heran jika Pelaksana Harian Bupati Manokwari, Edy Budoyo, meminta kejujuran warga saat memeriksakan kesehatan dan ada gejala terjangkit virus Covid-19.

“Jika pernah atau memiliki riwayat perjalanan di daerah terjangkit dan bahkan pernah mengalami kontak dengan pasien yang dinyakan positif. Kejujuran sangat membantu mempercepat penanganan dan mencegah penularan,”kata Edy Budoyo.

Peringatan dari Edy Budoyo, bahkan juga dari orang nomor satu di Papua Barat, Dominggus Mandacan, tidak untuk kepentingan diri mereka. Mereka tak pernah bosan menggelorakan semangat hidup sehat, mengikuti imbauan dan protokol kesehatan, pertama-tama untuk kesehatan kita bersama. Satu saja warga positif, berkemungkinan menjangkiti orang-orang yang melakukan kontak dengannya.

Karena itu, tak perlu berdalil banyak. Mari kita selalu cuci tangan, jarak jarak, pakai masker, hindari kerumunan, bersihkan lingkungan, jaga asupan gizi, dan keluar rumah untuk keperluan urgent. Rasanya, tanpa pandemic Covid-19 pun, beberapa deret imbauan sudah biasa kita lakukan.

Jika kita patuh, gempuran Covid-19 yang telah menggemparkan dan menggempur dunia segera berakhir. Kita tentu sudah merindukan kerja secara normal, bergaul sebaimana biasa,  perekonomian segera pulih dan pemerintah lebih berkonsentrasi pada peningkatan kesejahteraan bersama.

(MK/Health)

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *