oleh

Koperasi Millenial Mewadahi Startup Callind, Konon Lebih Cepat Dari WhattsApp

banner 468x60

Jakarta, monitorkeadilan.com — Indonesia merupakan salah satu negara dengan pertumbuhan startup terbesar. Satu per satu startup tumbuh bagai jamur di musim hujan, salah satunya adalah Callind.

Aplikasi media sosial Callind atau Calling Indonesia yang dinilai lebih cepat dibanding aplikasi sejenis, seperti WhatsApp yang lebih populer, bakal dikembangkan dengan jaringan koperasi. Callind diciptakan oleh gadis Kebumen, Novi Wahyuningsih, dua tahun lalu.

banner 336x280

Koperasi ini digadang-gadang bakal mewadahi anak muda, atau generasi millenial yang hendak bergabung dalam pengembangan Startup ini. Koperasinya bernama Wahyu Global Cakrawala.

Chief Sales Officer (CSO) Cakra Talk, Novie Azthary mengatakan selama ini kebanyakan koperasi hanya berkutat pada simpan pinjam. Namun Koperasi Wahyu Global Cakrawala berinovasi melalui bisnis StartUp. Selain aplikasi Callind yang kini rebranding menjadi CakraTalk, juga ada Kondangin, Belajar Holic, Mediscall, Glowis, BeliPangan, Ayober dan Mediscall.

“Siapapun yang bergabung dengan koperasi milenial tersebut tentunya bisa untung bersama,” katanya kepada gatra.com, Selasa (6/8).

Novi mengemukakan, pada tahap awal pengembangan aplikasi pihaknya membatasi 100 ribu member atau anggota koperasi. Caranya dengan menabung Rp 550 ribu. Calon anggota juga harus memiliki tabungan di Koperasi Wahyu Global Cakrawala dan disimpan setidaknya selama dua tahun.

“Otomatis terdaftar sebagai anggota di Yayasan Ayober Cakrawala,” ujarnya.

Dia pun mengklaim, dengan tabungan tersebut, seorang member berpotensi mendapat penghasilan puluhan juta rupiah, dalam jangka dua sampai tiga tahun ke depan. Anggota yang secara otomatis memiliki tabungan itu bisa mendapatkan bagi hasil keuntungan di tujuh aplikasi dan menjadi saham tersendiri. Salah satunya CakraTalk.

Koperasi Wahyu Global Cakrawala, ujar Novie, memiliki 10 persen share saham di masing-masing aplikasi. Jika tahap awal saja 100 ribu member, maka dari 10 persen yang ada di koperasi itu dibagikan untuk 100.000 anggota koperasi. Dengan itu masing-masing member mendapatkan sekitar 0.0001 persen.

“Tampaknya kecil memang, namun perhitungan itu baru satu startup yang berhasil. Taruhlah CakraTalk yang sebelumnya bernama Callind, hanya dalam waktu lima bulan terdapat hampir mencapai satu juta pengguna,” ujarnya.

Targetnya, untuk menjadi Startup sukses, dalam dua tahun CakraTalk digunakan oleh 20 juta pengguna, meski tak menutup kemungkinan bisa mencapai 50 juta bahkan 100 juta pengguna atau lebih.

Dia menerangkan, keuntungan pertama dari sebuah Startup bisa diperoleh saat aplikasinya banyak digunakan oleh masyarakat. Semakin tinggi pengguna aplikasi, maka harga Startup tersebut akan semakin tinggi.

Dia mencontohkan, aplikasi WhatsApp, yang dibeli Rp 274 triliun atau Lazada yang mendapat investasi hingga Rp 13 Triliun saat pengguna aplikasinya mencapai 20 jutaan. Ada pula salah satu startup yang diakuisisi senilai Rp 13 Triliun dengan melepas saham 80 persen dengan database pengguna kurang lebih 20 jutaan.

Keuntungan lain dari menjadi anggota koperasi ini yakni bahwa tidak semua dana yang diperoleh digunakan untuk Startup. Prosentase penggunaan untuk Startup hanya 25 persen. Lainnya, sebanyak 25 persen untuk properti, dan 50 persen disimpan sebagai cadangan.

“Ketika satu member menabung Rp 550 ribu maka dengan jumlah 100 ribu member akan mencapai Rp 50 Miliar. Sedangkan dari Rp 50 Miliar itu sudah ada 10 persen saham di tujuh startup. Kalau satu startup berhasil dan diakusisi valuasi perusahaan menjadi Rp 13 Triliun,” jelasnya.

(MK/Tekno)

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed