oleh

Peran Indonesia Dalam Usaha Perdamaian Afghanistan

banner 468x60

Jakarta, monitorkeadilan.com — Indonesia terus memainkan peran sebagai contoh negara mayoritas muslim yang damai. Kehadiran Taliban ke Indonesia, banyak orang memaknai bagaimana bahwa Indonesia bisa menjadi model perdamaian dan toleransi bernegara dan beragama.

Delegasi Taliban kembali mengunjungi Indonesia pada akhir pekan lalu. Kementerian Luar Negeri mengatakan delegasi Taliban yang langsung diketuai wakil pimpinannya, Mullah Abdul Ghani Baradar, itu diterima secara informal oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla di kediamannya di Jakarta.

banner 336x280

Meski pemerintah Indonesia enggan buka mulut terkait pertemuan itu, juru bicara Taliban menuturkan pertemuan itu dilakukan guna membicarakan relasi politik antara Indonesia-Afghanistan dan juga proses perdamaian di negara Asia Selatan itu yang masih dilanda perang sipil selama 18 tahun terakhir.

Lawatan akhir pekan lalu itu juga bukan yang pertama kali dilakukan Taliban ke Jakarta.

Pada Agustus lalu, delegasi Taliban juga sempat berkunjung ke Jakarta dan menemui JK serta Menteri Luar Negeri Retno Marsudi.

Ahli politik internasional dari Universitas Padjajaran, Teuku Rezasyah, menilai lawatan delegasi Taliban tersebut merupakan bentuk kepercayaan Afghanistan kepada Indonesia untuk membantu proses perdamaian di negara itu.

“Mereka masih terlibat konflik dengan pemerintahnya sendiri di Afghanistan dan juga Amerika Serikat, jadi tampaknya mereka percaya hanya Indonesia yang bisa dimintakan jasa baiknya untuk membawa perdamaian menyeluruh di negara itu,” kata Teuku Rezasyah, Selasa (30/7).

Indonesia berkontribusi dalam proses perdamaian di antara keduanya di mana perang masih berlangsung terutama sejak koalisi Amerika Serikat menggulingkan Taliban yang saat itu berkuasa dalam pemerintahan Afghanistan.

Hal itu terlihat sejak Presiden Afghanistan Ashraf Ghani bertemu dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Jakarta pada April 2017 lalu.

Dalam kesempatan itu, Ghani disebut meminta Indonesia untuk bisa membantu negaranya keluar dari konflik sipil berkepanjangan.

Sejak itu, pejabat tinggi pemerintah rajin melawat Afghanistan mulai dari pejabat Kemlu RI, Menlu Retno, JK, hingga Jokowi.

Pada Januari 2018 lalu, Jokowi melakukan lawatan balasan ke Afghanistan meski situasi dan keamanan di Ibu Kota Kabul sedang tidak kondusif.

Sepekan sebelumnya, kelompok Taliban melakukan aksi bom bunuh diri di dekat Kedutaan Besar RI di Kabul menewaskan lebih dari 100 orang dan melukai sekitar 250 lainnya.

Di hari H lawatan Jokowi, sekelompok orang bersenjata menyerang sebuah akademi militer di Kabul.

Dalam lawatan itu, Jokowi mengusulkan diadakan pertemuan ulama internasional guna membantu proses perdamaian dunia terutama di Afghanistan. Saat itu, Jokowi juga menyatakan kesiapan Indonesia menjadi tuan rumah pertemuan tersebut.

Empat bulan berselang, Indonesia menjadi tuan rumah pertemuan trilateral ulama dari tiga negara yakni Indonesia, Afghanistan, dan Pakistan.

Pertemuan itu menghasilkan Bogor Ulama Declaration of Peace yang salah satunya berisikan dukungan perdamaian di Afghanistan.

“Indonesia menjadi tuan rumah pertemuan tokoh-tokoh agama yang melibatkan ulama dari Pakistan, Afghanistan, dan Indonesia. Kegiatan ini dengan sendirinya berkontribusi dalam keberlanjutan upaya membangun komunikasi (antara pemerintah Indonesia dengan pihak bersengketa di Afghanistan),” kata pelaksana juru bicara Kemlu RI, Teuku Faizasyah kemarin.

Selain Jokowi, JK juga turut andil dalam meningkatkan peran Indonesia dalam perdamaian di Afghanistan. Kurang dari sebulan setelah lawatan Jokowi, JK juga berkunjung ke Afghanistan untuk menjadi tamu kehormatan dalam acara Kabul Peace Proces Conference.

Dalam acara tersebut, JK berbagi cerita pengalaman RI mengatasi konflik sipil.

(MK/Int)

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed