oleh

Kisah Cinta Terlarang dari Tanah Bugis Dalam Pentas ‘I La Galigo’

banner 468x60

Jakarta, monitorkeadilan.com — Seorang pria dengan busana warna kuning naik ke atas pentas pertunjukan ‘I La Galigo‘ sembari membawa sebuah kitab kuno yang diikuti beberapa pemain musik. Ia duduk bersila dengan alunan musik tradisional khas Bugis yang memecah kesunyian, sebagai penanda pentas dimulai.

Dalam balutan cahaya bernuansa biru dan putih yang melatari panggung, beberapa pemain kemudian menyusul, bergerak lambat, sambil membawa beberapa perabotan. Suasana itu seolah dibangun sebagai gambaran kehidupan masyarakat Bugis yang bergerak seperti meninggalkan kampungnya.

banner 336x280

“Tunggu! Jika Dunia Tengah berakhir sekarang, siapa yang akan ingat legenda Sawerigading? Aku adalah putranya, I La Galigo. Beri aku waktu untuk menceritakan kisah keluargaku dan para dewa,” kata seorang anak yang menyampaikannya lewat gerak tubuh. Dialog dan alur cerita pentas ini sendiri, ditulis dalam layar yang berada di kanan dan kiri panggung.

I La Galigo merupakan sebuah pementasan yang naskahnya diadaptasi dari ‘Sureq Galigo’, wiracarita tentang mitos penciptaan suku Bugis yang terabadikan lewat tradisi lisan dan naskah-naskah.

Epos itu terekam dalam bentuk syair (sekitar abad ke-13 dan ke-15) dalam bentuk puisi bahasa Bugis kuno yang juga ditulis dalam huruf Bugis kuno. Puisi ini terdiri dalam sajak bersuku lima yang menceritakan kisah asal usul manusia.Dalam versi adaptasi ke atas panggung ini, Sureq Galigo menjadi dasar dari sebuah kisah yang menggambarkan petualangan perjalanan, peperangan, kisah cinta terlarang, upacara pernikahan yang rumit, dan pengkhianatan.

Kisahnya berpusat pada kehidupan Sawerigading yang jatuh cinta pada saudara kembarnya We Tenriabeng. Dewa-dewa dari Dunia Atas dan Bawah mengirimkan putra-putrinya untuk mendatangkan kehidupan di Dunia Tengah. Mereka menikah dan menjadi penguasa Kerajaan Luwuq.

Sejumlah sepupu dan pelayan ikut dengan mereka. Dewi Beras membawa kesuburan kepada tanah dan rakyatnya. Semua perempuan melahirkan kecuali Sang Ratu.

Hingga suatu saat, Ratu melahirkan sepasang Kembar Emas dampit, Sawerigading, ditakdirkan menjadi raja ksatria hebat, lahir dengan senjata lengkap. We Tenriabeng, ditakdirkan menjadi seorang pendeta Bissu perempuan, lahir penuh dengan tanda-tanda kebesaran.

Seorang peramal memperingatkan: “Kedua anak tersebut ditakdirkan untuk jatuh cinta. Pernikahan antar saudara akan menghancurkan kerajaan ini. Mereka bisa memiliki apa saja di dunia ini kecuali saling memiliki.”

We Tenriabeng dibesarkan dalam suatu ruang samping rahasia istana itu. Sawerigading diperintahkan melaut menjelajah dunia.

Setelah banyak petualangan dan suatu upaya sia-sia untuk memenangkan cinta gadis cantik di Pulau Kematian, Sawerigading diberi tahu bahwa gadis tercantik di dunia adalah saudari kembarnya dan tinggal di istananya sendiri.

Dengan penuh semangat ia pun berangkat untuk menemukan saudarinya itu. Ia diam-diam memasuki kamar We Tenriabeng. Terpesona oleh kecantikannya, ia pun langsung menyatakan cinta.

Meski Tenriabeng sendiri terpesona, tapi dia tahu bahwa pemuda itu saudara kembarnya dan memahami kutukan perkawinan antarsaudara.

Singkat kisah, karena terjebak dalam cinta terlarang yang dapat membawa petaka, Sawerigading akhirnya menikahi seorang putri cantik dari Cina bernama We Cudaiq dalam kebingungan dan keputusasaan.

Namun, perjalanan itu juga tak mudah bagi Sawerigading. Konflik lain ikut berdatangan.

Rekam jejak pertunjukan I La Galigo yang berada di bawah arahan sutradara teater dari Amerika, Robert Wilson, ini memang tak lagi diragukan.

Setelah berkelana di pentas-pentas kelas dunia seperti di Singapura, New York, Amsterdam, Barcelona, Perancis, dan Milan, dan akhirnya kembali ke Indonesia, pertunjukannya cukup memukau.

Dengan cerita yang diadaptasi oleh Rhoda Grauer, Wilson mengemas pertunjukan ini dengan koreografi indah dan latar panggung yang cukup mewah. Padahal hanya menggunakan permainan cahaya lampu.

Ia tampak mengonsepnya dengan cukup apik, belum lagi ini didukung dengan properti, busana, aksesoris, serta iringan musik yang menambah nilai pertunjukan ini.

Salah satu yang patut diapresiasi, alih-alih membuat perahu sebagai salah satu properti pertunjukan, dia cukup membentuknya dari sarung yang dikenakan pemain.

Dengan pertunjukan tanpa dialog langsung, Robert juga piawai memainkan simbol-simbol sekalipun hanya lewat gestur, tanpa menghilangkan esensi yang hendak ia sampaikan.

Selain kepadanya, apresiasi juga diberikan untuk tata kostum oleh Joachim Herzog yang dibantu oleh Yusman Siswandi dan Airlangga Komara.

Kemudian apresiasi juga diberikan kepada Rahayu Supanggah yang mengatur musik, menempatkannya sesuai dengan tema dan adegan-adegan yang disuguhkan. Ia menambah pertunjukan lebih hidup, meski terdengar ada masalah teknis suara selama proses latihan.

Secara keseluruhan, pertunjukan ini menyampaikan cerita tentang petualangan perjalanan, peperangan, kisah cinta terlarang, upacara pernikahan yang rumit, serta pengkhianatan dengan menarik.

Selain karena pertunjukan kelas dunia, pentas ini juga patut disaksikan sebagai pengetahuan akan legenda tentang budaya dari tanah Bugis.

Pertunjukan berdurasi 2 jam 15 menit ini berlangsung sejak Rabu (3/7) hingga Minggu (7/7) mendatang. Tiket pertunjukan dijual dengan harga mulai dari Rp475 ribu hingga Rp1,85 juta di laman situs resmi Ciputra Artpreneur. (MK/Hiburan)

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed